Artikel,  Teknologi

Sejarah Basis Data Google

Kurang lebih sejak tahun 2010, istilah Big Data sudah mulai hangat diperbincangkan. Topik-topik seperti : “Bagaimana cara menganalisa perilaku setiap konsumen saat berbelanja secara online sehingga sang penjual bisa memberikan rekomendasi secara otomatis tentang produk yang sesuai dengan tiap pelanggan.”, “Bagaimana menganalisa kicauan pada Twitter sehingga bisa menemukan topik-topik yang sedang hot atau trending topic.”, “Bagaimana menganalisa transaksi kartu kredit sehingga bisa dibedakan mana transaksi yang legal dan illegal.”, telah menjadi topik yang sering diangkat di media massa. Data-data tentang perilaku konsumen pada toko online, kicauan puluhan juta pengguna Twitter maupun data tentang transaksi kartu kredit dapat dikategorikan sebagai Big Data.

 

Dalam artikel berjudul “Gartner SaysSolving ‘Big Data’ Challenge Involves More Than Just Managing Volumes ofData.” dinyatakan bahwa Big Data itu memiliki tiga karakteristik : Volume (Volume), Variasi (Variety), Kecepatan (Velocity).
Untuk menyimpan dan mengolah data dalam jumlah besar diperlukan waktu dan biaya yang besar. Untuk memberdayakan berbagai jenis / variasi data diperlukan prosedur yang sesuai dengan tiap jenis data tersebut. Terakhir, untuk memanfaatkan data yang terus menerus diproduksi dengan kecepatan tertentu, diperlukan kecepatan dalam mengolah data untuk memenuhi target yang ditentukan. Ketiga karakteristik ini menggambarkan betapa sulitnya menangani dan memanfaatkan Big Data. Jadi kalau disederhanakan, Big Data itu adalah data yang besar dalam volume, kumpulan dari berbagai jenis data, dan diproduksi dengan kecepatan tertentu.

 

Dalam hal volume, telah terjadi peningkatan yang drastis sejak sekitar tahun 2000 sehingga kemudian muncul istilah Ledakan Informasi. Berdasarkan laporan yang dilansir oleh IDC (International Data Corporation) : “2011 Digital Universe Study: Extracting Value fromChaos“, diperkirakan bahwa pada lima tahun kedepan, volume data yang dihasilkan per-tahun akan meningkat menjadi 6 kali lipat. Pada tahun 2005, terdapat 130 Exabytes data dan menjadi 1,2 Zettabytes pada 2010. Pada tahun 2015, diperkirakan akan meledak menjadi 7,9 Zettabytes. Latar belakang dari membludaknya volume data ini adalah proses komputerisasi yang telah semakin merasuk ke dalam segala aspek kehidupan manusia. Mulai dari PC (Personal Computer), smartphone, ATM, komputer kantor swasta, komputer kantor pemerintah hingga kamera jalan raya milik POLRI maupun Kemenhub.

 

Dalam hal jenis, data sudah tidak lagi hanya berupa lembaran data seperti halnya data yang ditampilkan dengan MS Excel, MS Access, ataupun software pengolah data lain yang menyimpan teks dan angka dalam suatu format tertentu. Data saat ini bisa berupa teks data yang dimuat pada website, blog, SNS(Social Network) seperti halnya Facebook dan Twitter, yang tidak memiliki format yang ditentukan sebelumnya. Data bisa berupa music maupun video digital yang didistribusikan dan diakses melalui internet dan terus bertambah.

 

Dalam hal kecepatan, data dihasilkan bukan lagi dalam hitungan hari, dan umur berlakunya data pun menjadi lebih pendek. Sebagai contoh, laporan hasil analisa transaksi jual-beli yang sebelumnya dilakukan per-bulan atau perminggu kini dilakukan per-hari bahkan per-jam. Dengan demikian, masa berlaku data hasil analisa pun bukan lagi dalam hitungan bulan tapi hanya berlaku dalam satu jam. Bahkan, tidak sedikit proses pengolahan, analisa, dan pendistribusian data yang telah bisa dilakukan secara real-time.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: