Cerita

GUNUNG ARJUNA DAN SAMBUTAN “HANGAT” PARA PENDUDUK GAIBNYA

Pengalaman dan cerita dari@galih_irvandi

Libur panjang bulan Mei 2016 silam kami (Galih/penulis, Pandu, Bang Aris, Saif dan Rendi) berniat menyegarkan pikiran dari penat kuliah di semester akhir. Karena kebetulan punya hobi sama naik gunung, kami memutuskan utk naik ke Gn.Arjuna yg terletak di daerah, Malang perbatasan Pasuruan melalui jalur Tretes yg familiar di kalangan pendaki. Berangkat dr Surabaya kamis malam pkl 23.00 dan sampai di pos pendaftaran pkl 24.00. Tim langsung bergerak ke pos 1 Pet Bocor namanya dan mendrikan tenda. Jarak dr pos daftar ke pos 1 lumayan dekat, cukup 30 menit. Lalu keesokan harinya tim naik ke pos 2, Kokopan. Setiba kami sampai di pos ini seketika itu pula kabut pekat turun dan tak lama hujan lebat padahal sblumnya siang itu terik, ah sudahlah memang cuaca d gunung sulit diprediksi. Waktu itu pkl 13.00 dan masih hujan lebat, tim memutuskan utk menunggu agak reda. Rupanya ada rombongan lain yg memaksa naik dan mencoba menyapa kami ” monggo mas, kami duluan” sapa meraka. Pkl 15.00 tim jalan lagi krn agak reda. FYI, waktu tempuh Pos 2 (kokopan) ke pos 3 (pondokan) sekitr 3 jam an dan treknya jelas dan lurus gak ada jalan cabang. Kami smpai di pos 3 jam 18.00, namun ada yg janggal, Rombongan yg menyapa kmi yg berusaha menembus hujan tadi baru smpai dibelakang kami. “Lho mas kok cepat bgt jalannya? Tanya mereka. “Nggk mas, kami jalan biasa kok tadi”. Aku berfikir logikanya mereka jlan jam 13.00 hrsnya smpe jm 16.00 atau gk 17.00. Tapi ini justru kami sampai duluan dan kami ingat tidak menyalip rombongan tsb di trek yg lurus pos 2 ke pos 3. Apakah mereka “dibikin” lama?? Ahh kami lngsung bangun tenda utk bermalam sebelum summit tengah malam nanti. Jalur pendakian Arjuno ini sejalur dg Gn. Welirang, hanya setelah pos 3 jalurnya berbeda. Malam itu pkl 11.00 tim bersiap dan mencari jalan ke Arjuno, krn kami ber 5 belum ada yg pernah kesini jadi kami tanya pendaki lain, ternyata mereka juga ga tau. Kami tanya lagi tenda yg lain, mereka ga tau juga, sampe mgkin 5x tanya ga ada yg tau jalan ke Arjuna (memang jalur Arjuna lebih tidak jelas dibanding welirang).

Saya merasa malam itu para pendaki tidak tau atau mungkin lupa atau bingung jalan awal ke arjuna atau entahlah apa namanya hingga akhirnya tim nekat nebak jalan dg senter seadanya. Awalnya seperti ada jalan setapak namun setelah 30 mnt jalan itu buntu, tak berbekas, semak2 tinggi. Kami tersadar stelah melihat nyala senter di kejauhan. Ya, KAMI SALAH JALAN dan tdk tau itu tadi jalan apaan. Sedikit lari kami kejar rombongan senter2 itu berharap pendaki yg ngerti jalur yg benar. Setelah mndpt jalur yg bener, tim lanjut lewat Lembah Kidang, dan menembus Alas Lali Jiwo. Konon mitosnya kalo kita dengar suara gamelan di alas ini, mau ga mau harus turun. Krn kalo dilanggar akan mengalami “lali jiwo” / lupa jiwa. Kadang pendaki dibuat tersesat atau mengalami gangguan2. Sepanjang alas ini kami ber 5 spontan merapatkan jarak jalan. Jaga2 kalo ada apa2. Sambil baca2 an nas dan ayat AlQuran, hening menyelimuti langkah kaki kami. Sepertinya ada ratusan makhluk yg mengawasi perjalanan kami namun kami tak bisa melihat mereka. Berharap ada rombongan lain yg menyalip, tapi mereka sprtinya masih jauh dibelakanh kami. Menjelang subuh tim sampai di puncak Arjuna dg kelelahan maksimal krn mmg trek yg susah. Jam 9 pagi rencana turun dr puncak namun kami kehilangan 1 tmen kami si Rendi. 1 jam kami mencarinya hingga saya melihat dia berjalan linglung d bukit seberang puncak berjarak sktr 400m d sbelah puncak. Setelah mndapatkannya kami ber 5 turun ke Pos 3. Malam harinya Rendi menceritakan bahwa dia tadi diajak sama sosok perempuan sekitar umur 26 th, putih, baju merah, namun tdk bawa ransel atau apa. Permpuan itu katanya juga ga punya rombongan. Rendi yg memang baru pertama kali naik gunung mengiyakan ajakan mbak2 tadi hingga kami melihat dia jalan linglung 3x memutari bukit. Katanya setelah dia ngikut dibelakanh mbak2 itu, dia udh ga liat lagi. Hiiii, kami ber 4 bergidik mendengar cerita bocah polos itu. Lngsung kami tidur ber 5 dlm satu tenda. Jam 22.00 malam tim siap2 utk turun krn mmg planning kita gak lama2 d gunung selain krn kuliah jg bekal kami g banyak2 amat.
Keadaan senter udh sekarat. Jadinya formasi 2 depan (aku dan saif), 1 rendi ditengah krn kejadian siang td, dan 2 belakang (pandu dan bang aris). Pos 3 ke pos 2 pkl 22.00 saif ngrasa carrierny jd berat. Padahal brg bawaan sudah bnyk terkurangi. Mungkin krn kecapekan, positive aja. Aku sesekali mengecek keadaan blkg sambil nengok ke arah pandu, namun stelah bbrp kali nengok perasaan atau apa dibelakang pandu tuh ada orang. Lngsung aku ga ngecek lagi abis itu. Di pos 2 kami istirahat sejenak sblum lanjut ke pos 1. Jalur pos 2 ke pos 1 ini yg paling parah. Pertama kami tidak menjumpai satupun rombongan yang nyalip atau kami salip, hanya rombongan yg berpapasan 2 sampe 3. Mereka yg berpapasan (naik), menegur kami ” Mas, kok jam segini turun?”. Pertanyaan mereka kucerna sebagai sapaan biasa, namun siapa sangka kata bbrp org memang setelah lewat tengah malam dianjurkan utk tidak turun dr Gn.Arjuna entah mngkin krn “menyalahi kodrat” atau apa yg hrusnya jam tsb pendaki naik atau ngecamp aja, sdgkan kami turun sendirian pula. Dan baru kusadari kami ber 5 yang artinya GANJIL. Disetiap yg ganjil, selalu ada yg menggenapkan. Gangguan kedua ketika istirahat d keheningan, Krosaaaakk,,skkkkk,srrkkk. Suara itu mengagetkan lamunan kami ditengah kelelahan. Yang Kami takutkan bila ada hewan buas yg tiba2 lari dr arah depan. Kami cari sumber bunyi itu dg senter tidak ketemu, sreeeeett..sreeekk. Semakin kencang suara tsb sprti ada yg lari di rimbunan pohon. Kami lempari dengan batu berharap kalo hewan pasti dia lari. Setelah dirasa aman kami jalan, alngkah kagetnya jarak 5 m berjalan air menyembur dr dalam tanah. Sreeeett,, sreet , Alhamdulillah cuma air. Kami jalan lagi waktu mnjukan pkl 02.30 pagi. Gangguan ketiga ketika lewat tikungan kami dengar suara kurang lebih sprti ini hiii,, hiii, hiiii. Sumpah langsung bergetar kepalaku rasanya. Pandu yg asal Jakarta nyletuk “ohh burung hantu itu”. Dalam hatiku, perasaan burung hantu suaranya ” wuuukkkk” gitu. Apa iya itu burung? Seakan menegaskan keberadaan mereka, suara itu muncul lagi kali ini lebih jelas hiii,hiiiii,,hiii hiii,hiiiii,,hiii, fix itu suara perempuan, bukan burung. Tanpa dikomando kami lari teratur krn kalau yg pernah ke Arjuno pasti tau bhwa trek arjuno sulit buat lari dikarenakan semua batu2 besar. Gangguan semakin pagi semakin ganas, kali ini aku dan saip saksinya, headlamp satu2nya yg ada di kepala si saip tak sengaja menyorot ke atas pohon kapuk kalo g salah. Dan apesnya kita berdua sama2 liat, warna putih menggntung di atas pohon, tinggi badan 2 m lebih, kaya pakai daster. Kesimpulan kami itu mbak kunti. Saip yg gemetar menyruhku baca Ayat Kursi. Kusuruh anak2 dibelakang buat baca2 apapun sebisanya, kurasakan kita ber5 semakin berdempetan krn semua aslinya penakut. Langsung kuambil headlamp itu krn kalo salah menyorot bisa gawat lagi ini. Suasana semakin ga karuan, kita jalan udah lama tapi seperti muter2 dijalan yang sama. Hingga beberapa kali saip entah sadar atau tidak mengatakan ada rumah dibalik pohon2 besar. “Itu lih ada rumah gede itu”. Kusuruh istighfar agar pikirannya tenang padahal sbnrnya aku juga gemetar. “Itu pohon if, sadar pukul 4.00 pagi kami harusnya sudah di pos 1 tapi ini belum sampai2 juga. Percaya atau tdk kadang kami merasa jalan itu sudah kami lalui tadi. Hingga akhirnya saat baterai senter sudah hampir mati semua hanya cahaya pagi yg samar2 meski masih gelap. Kulihat ada bapak2 dengan caping dan kaos putih membawa cangkul dengan wajah menunduk kebawah berjalan ke arah kami. Cobaan apalagi ini, namun kupaksa diriku utk menyapa dan bertanya pada beliau. “Nyuwun sewu pak, pos 1 nopo tasik tebih” Artinya “permisi pak pos 1 apa masih jauh?”. Dia menjawab sambil menunjuk “Mboten dek niku wes cedek”. “Tidak dek, itu sudab dekat”. Lega krn kita sudah dekat. Udh ga peduli dia manusia apa bukan, pikiran kami hanya segera smpai d pos 1. 04.30 suara azan subuh terdengar, serasa pngen teriak gembira krn panggilan Tuhan seakan meluluhlantakkan “penduduk2” gaib gn.arjuna.

Semangat muncul lagi dan pkl 05.00 wib kami sampai di pos 1 dimana sudah banyak tenda2 pendaki, banyak org2 lalu lalang. Seakan2 rasanya kami kembali ke dimensi normal kami, dunia kami. Langsung pesan teh anget 5 dan solat subuh, mungkin kita kurang taat kepadaNya dan melanggar “aturan main” tempat ini. Hikmah dari perjalanan ini adalah janganlah sombong, jangan merasa kuat krn ada yg maha kuat, jaga sopan santun dimanapun, cintai alam seperti cinta diri kita. #Salam Lestari ..Selesai..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: