Cerita

GUNUNG CIREMAI VIA LINGGARJATI

Siang ini ketemu lagi sama cerita mistis dari Gunung Ciremai, kali ini pengalaman dari @dellyciiouz

Berawal dari satu hobby teman2 penikmat alam di Kantor yang lama, akhirnya kami sepakat untuk mengadakan penanjakan ke Gunung Ciremai via Linggarjati. Group kali ini beranggotakan 10 laki2 dan 3 orang perempuan. Saya akui, diantara gunung2 yang pernah saya datangi, Gunung Ciremai lah yg paling banyak pengalaman mistisnya. Mulai dari awal pendakian sampai hampir pos terakhir, group kami dikawal oleh seekor burung gagak. Gagak itu seakan memberi petunjuk kepada kami saat kami mulai bingung di tengah jalur. Pengalaman mistis semakin banyak menghampiri kami ketika kami tau bahwa salah seorang teman perempuan, Dina, ternyata sedang datang bulan. Awalnya, Para lelaki sempat melarang Dina utk melanjutkan pendakian, karena mitosnya perempuan yg sedang datang bulan tidak diperkenankan utk ke gunung. Entah apa alasannya. Dina akhirnya merengek utk tetap melanjutkan pendakian. Mungkin fikirnya, sayang sudah jauh2 datang dr Jakarta tapi gak bisa summit di Ciremai. Akhirnya kami pun luluh. Kami sempat ngecamp di pos Leuweung Datar utk makan siang dan istirahat. Kami berencana utk melakukan pendakian pada malam hari utk menghindari panas dan haus. Tau sendiri Kan? Jalur Linggarjati tidak ada sumber air satupun. Jadi kami harus berhemat air. Sehabis Isya kami mulai berkemas dan melanjutkan pendakian. Di Tanjakan Seruni saya sempat mendengar langkah kaki seperti kucing besar, menyeret2 di semak2. Belakangan saya dengar di pos itu memang suka terlihat penampakan macan. Entah macan beneran atau siluman…. Lanjut lagi sampai di pos Bapa Tere, kami mendengar suara perempuan menyanyikan/nembang lagu sunda. Kami semua terdiam. Tidak ada yg berkata-kata. Hanya terus berjalan di gelap malam. Mungkin itu semacam ucapan selamat datang ke daerah kekuasaannya. Di beberapa titik, saya sempat melihat sosok2 arwah menyerupai seorang pendaki, lengkap dengan kupluk dan kerilnya. Saat itu saya tidak menggunakan headlamp, tetapi senter. Yg akhirnya tangan jahil saya ini menyorot sosok2 aneh itu dibawah pohon. Fajar, senior kami memergoki ulah saya. Akhirnya dia menasehati saya utk gak menyorot kemana2 selain langkah kaki saya. Sepertinya Fajar tau apa yg saya lihat. Singkat cerita, kami bersepuluh berhasil utk summit. Pada perjalanan turun, kaki Dina terkilir. Akhirnya kami terbagi menjadi 2 group. Kami berenam turun duluan, sedangkan Fajar, Akbar, dan Bandi membantu Dina yg susah untuk berjalan. Group pertama sampai dengan selamat sampai di pos Cibunar. Setelah sebelumnya teman kami, Dayat berhalusinasi bahwa dia melihat mata air. Seperti yg kita tau, sumber air Satu2nya hanya ada di pos Cibunar. Itu pun berupa keran air. Tetapi malam itu Dayat berlari-lari histeris bahwa di bawah itu ada mata air yg berkilauan. Sampai2 kami harus tampar mukanya biar dia sadar. Entah apa yg dia lihat sebenernya. Group 2 yg ada Dina di dalamnya, ternyata di kerjain setan sesat di sekitar Kuburan Kuda. Jam 12 malam Mereka berkali-kali melewati jalan itu. Mereka bingung karena mereka melihat jalur yg bercabang. Padahal kita tau jalur Linggarjati cukup jelas. Merasa ada yg tidak beres, Akhirnya Fajar memutuskan utk ngecamp disana. Sampai Subuh baru mereka bergegas turun. Group kami yang tidak tau bahwa Fajar dkk mengalami kejadian itu pun panik karena sampai pagi mereka tidak muncul2 di pos Cibunar. Padahal 1 km sebelum pos kami sempat melihat sosok Bandi tak jauh dari group kami. Herannya kenapa mereka tidak sampai juga di pos terakhir. Akhirnya kami meminta bantuan ke Basecamp, lalu Ranger dan beberapa orang teman berangkat menjemput mereka dengan membawa tandu untuk Dina yang terkilir. Allahualam…..
Selesai..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: