Cerita

Gunung SiBayak Jalur Debu-Debu

By @bayusuzi

Pada bulan Januari 2017 kemarin kita naik ke gunung si bayak jalur debu-debu. Jalur ini semakin sedikit di lalui oleh para pendaki, dikarenakan selain jalurnya lumayan susah. Para pendaki lain kebanyakan memilih jalur pariwisata, kami satu team ada 6 orang saya Bayu, awi, didonk, Fahmi, Sobri dan Ari. Waktu itu waktu menunjukkan pukul 10 malam dan kamipun sampai di depan pintu rimba, kemudian kami berdoa untuk memulai pendakian. Setelah berdoa kami pun berjalan, ditengah gelapnya hutan. Ada sekitar 1 jam kami terus berjalan tanpa henti, hingga Ari berbicara agar berhenti sesaat untuk beristirahat. Kami pun mencari tempat dimana bisa beristirahat, di karenakan Sibayak tidak memiliki pos2 pemberhentian. Setelah kami mendapatkan tempat kami pun berhenti, didonk mengeluarkan air minum dari ranselnya nya dan juga gula aren untuk penambahan stamina, sekita 5-10 menit kami beristirahat tiba-tiba kami melihat begitu banyak api obor. Wah ternyata malam ini banyak yg naik dari jalur ini Kata didonk, ia juga pikirku lihat katanya begitu banyak obor. Bagaimana kalau kita tunggu saja, biar kita bisa sama baiknya dgn mereka. Boleh kata ku, kita tunggu ya. Kamipun menunggu lampu obor itu terus berjalan dan kelihatan semakin dekat, tanpa terasa kami sudah menunggu 1 jam lebih. Lho kok gak sampai2 Mereka ya, kata Sobri. Kemudian kami saling memandang, aku langsung ambil inisiatif “Ayo kita naik saja, nggak usah di tunggu” perasaan ku tiba-tiba tidak menentu. Didonk menganggukan kepalanya. Kalau emg itu orang, kita akan ketemu di atas kata ku. Kamipun bergegas ada sekitar 15 menit kami naik. Tiba-tiba kami di kejutkan dengan tertawa seorang wanita yg kami tidak tau dari mana asalnya, kemudian aku berkata tetap lah tenang, berdoalah dalam hati masing-masing kataku. Tidak lama kami melihat seorang laki-laki kerdil dan jalan nya melompat dengan jig jag dan dia memperhatikan kami dari balik pohon, perasaan kami semakin tdk menentu. Kembali aku semangati Mereka, tenanglah kita makhluk yg di ciptakan lebih mulia dari mereka, kami pun terus berjalan dan akhirnya kami sampai puncak, saat itu… (Lanjut dikomen) Saat itu cuma ada team kami. Karena kami naik tdk hari weekend, sudah tdk apa2 kataku. Kan ada rombongan lagi yg menuju kemari, yg membawa obor tadi kataku. Teman2 ku pun kelihatan lebih tenang, malam itu kami bergantian tidur. Karena situasi yg tdk baik, hingga pagi pun tiba tdk satu pun rombongan lain yg sampai. Jangankan dari jalur debu 2, jalur pariwisata juga tdk ada. Kami pun sadar bahwa Obor yg begitu banyak yg kami lht ternyata bukanlah manusia biasa yg membawa nya, dan kami pun mengurungkan niat kami, untuk bermalam semalam lagi di puncak. Siang nya kamipun turun dari jalur pariwisata. Selesai~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: