Cerita

Kesurupan di Sumur Jatulanda Gunung Lawu

Cerita dari @putriianandita

Saya mau share pengalaman waktu naik ke lawu. Kami berngkat dari semarang, rombongan 10 org termasuk saya sendiri.
Kami berangkat tanggal 25 juni 2018 motoran dari semarang menuju magetan, soalnya kami rest dulu di rumah nenek salah satu kawan saya, baru keesokan harinya kami semua berangkat dari magetan menuju basecamp cemoro sewu menggunakan transportasi pick up yg telah didapat dari tetangga nenek kawan saya.

Setelah sampai di bc, kami semua bergegas menuju loket pendaftaran dan melakukan registrasi. Setelah selesai semua lalu kami berkumpul setelah itu kitapun langsung berdoa bersama dan memulai pendakian.

Suasana kala itu masih pagi, kami berjalan seperti biasa. Beriringan, bersenda gurau, tidak begitu lama berjalan kita sampai di pos 1 (wes wesan), kebetulan hari itu memang tidak banyak pendaki yang naik, tidak begitu ramai tidak begitu sepi juga dan perjalanan ke pos 2 jga lumayan panjang. Sampailah kita di pos 2, disana terdapat warung yg menyediakan  esteh dan juga gorengan loh min hhe.

Di pos 2 (watu gedeg) tersebut kita break sembari ngobrol2 asyik dgn pendaki lain beberapa dr kami ada yg memesan esteh dan juga gorengan, waktu berlalu kami langsungkan perjalanan kami tadi menuju ke pos 3. Jaraknya memang lumayan jauh dan ini salah satu kesalahn kami ya banyak bercandanya dan terlalu banyak istirahat dan sampailah kami di pos 3 (watu gede) waktu menunjukkan pukul 3 sore, di pos 3 kami istirahat juga agak lumayan lama. 2 kawan saya sudah mengajak utk bergegas melanjutkan perjalanan ke pos 4 krn takut kalo kemaleman.

Tetapi yg lainnya tetap asyik berfoto dan istirahat, jarak dari pos3 menuju pos 4 tidak begitu lama, hanya saja kami terlalu banyak break dan akhirnya sampai di pos 4 (watu kapur) pada saat maghrib, mungkin krna lelah begitu lihat sunset kawan2 saya langsung mengeluarkan smartphone nya masing2. Kami menghabiskan waktu lama lagi di pos 4 tsb. Malam pun datang menghampiri, suara kumandang adzan dari salah satu hp kawan saya, sembari menunggu adzan kami menyiapkan seperti headlamp, jaket, skybo dll. Setelah siap semua kami langsung bergegas menuju pos 5, tiba2 ada satu kawan saya namanya dinda, ia sprti sudah kelelahan dan kedinginan “din.. masih sanggup?” tanya salah satu dari kawan saya dinda hanya mengangguk, okelah kita lanjut pelan2 menuju pos 5. Tidak lama kemudian kami sampai pada sebuah warung. Kami menghampiri warung tsb dan ternyata ada bapak2, beliau bilang “mriki tutup mbak, warung teng pos 5 buka” (disini tutup mbak, warung pos 5 yang buka) niat kami sebenarnya ingin segera buka tenda di sekitar area terdekat tadi. Setelah tidak lama berjalan kami menemukan seperti ladang yg luas yang bernama “Sumur Jalatundo” kejadian mistis2 bermula dari sini. Karena dinda sdh tidak kuat melanjutkan perjalanan naik lagi mau ngga mau kita turun perlahan menuju padang rumput yg kami kira itu adalah tempat camp, anehnya hanya ada satu tenda disana, baiklah kami positif thinking saja.
Sesampainya disana kami semua bagi tugas. Vian, ijat, ganang dan angger mencari tempat yg datar utk mendirikan tenda sedangkan saya, hana, enjel dan ade menghangatkan dinda yg sepertinya sdh mengalami gejala hypo. Sementara yg lainnya menyiapkan alat masak, beruntung satu kawan saya dia membawa emergency blanket dan langsung diberikan ke dinda. Semua temen cewe saya langsung memeluk dinda dan sementara yg cowo lainnya merebus air hangat, setelah beres semua dan dinda dibawa kedalam tenda kita memasak nasi sblm tidur. Saat teman2 saya sedang masak, beberapa menit kemudian temen2 saya yg diluar tenda kaget mendengar saya teriak2, sontak semua langsung ke tenda saya min dan saya langsung tdk sadarkan diri dan seperti ketawa2 (cekikian) sendiri, itu berlangsung selama beberapa jam lalu temen saya bagi2 tugas. Hana, enjel, choir, ijat dan vian berada didalam tenda bersama saya sembari mereka membacakan ayat kursi dll. Sedangkan yg lainya naik utk mencari bantuan, saat mereka keluar, di tengah2 saya waktu kesurupan kata hana, saya bilang gini “Nek gojek ki seng genah!!” (kalau bercanda itu yg benar) “Ganggu wong wae!” (mengganggu org saja) dan saat kejadian itu bener2 mencekam banget, sampe akhirnya setan yg masuk di tubuh saya bilang gini “Koe kabeh lungo seko kene!!” (Kalian pergi dari sini) “rausah ganggu aku!” (Ngga usah ganggu aku) dengan suara yg lantang dan kawan2 saya yg berada di tenda saat itu segera minta maaf sama yg masuk di tubuh saya.
Sementara angger, dinda, ade, ganang mereka sampai di warung dekat mata air sendang drajat, setelah lumayan lama mereka datang membawa botol minum berisikan air dari sendang drajat tsb. dan lgsg datang ke tenda mereka menyuruh saya meminum air tsb dan membaca doa. Lalu kawan2 packing, sementara saya digendong ke warung bersama ijat, ade, hana dan yg lainnya packing, bersihin sisa2 masak tadi dan lanjut ke warung mbok To. Sesampainya disana kami beres2 dan saya tidur, pas salah satu temen saya gantian jagain saya yg lagi tidur tetiba bangun, si choir yg nemenin tdi ambil air anget buat diminum, eh belom kena gelasnya saya udh ketawa2 sendiri kejadian itu pas tengah malem.
Kawan2 saya mulai lagi komat kamit baca doa, sedang bapak warungnya megangin kaki saya (soalnya dri bawah pas kesurupan pertama udh kerasa di kaki kiri sampe ke pinggul) dah itu saya udh lumayan baikan, ada salah satu rombongan pendaki yg juga tidur di warung, dia suruh ambil air sama garem dan kyk di bacain doa gitu terus saya suruh minum. Kebetulan didalem warung mbok to ada tenda kosong, saya terus tidurk di tenda, sementara kawan2 yg lain tidur di samping tenda. Malam itu entah si ade sedang rindu seseorang atau insom dia nggak tidur, lalu dia ngobrol dengan salah satu pendaki juga yg kebetulan tidur tidak jauh dari kami, mas bayu, ya dia yg semalam ngobrol dengan ade. Keesokan harinya keadaan saya sdh membaik, setelah masak dan mas bayu bilang “Nanti kita ketemu di puncak ya” katanya. Setelah packing semua kita cus tracking menuju puncak dan benar saja disana mas bayu dan mas galip sudah menunggu di puncak sembari mereka mengambil sampah2 milik pendaki yg tidak bertanggung jawab. Kami lgsg turun ke warung mbokyem karena simpangan antara cemoro sewu dan kandang disana. Setelah kami istirahat, kami turun di pimpin oleh mas bayu dan mas galip menjadi sweeper nya.
Kami turun jam 12 siang, perjalanan turun alhamdulillah berjalan lancar. Kami sampai di bc cemoro kandang kurleb jam 20.00, disitu badan saya berasa enteng, kami menuju bc cemoro sewu dgn pickup yg sudah menunggu daritadi.. Selesai~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: