Cerita

MISTIS DI GUNUNG PANDERMAN

By ~arengsetyobudi

Misi om/tante admin, saya mau berbagi cerita mistis.
Saya sebenarnya malas bercerita karena ceritanya nggak serem-serem amat, masih lebih serem liat postingan foto mantan bermesraan sama gebetan barunya di IG. Tapi tak apalah cerita sedikit mistis. Jadi, ceritanya beberapa tahun lalu kami berempat (saya, Alan, Hendrik dan Indro) berencana naik ke Gunung Panderman, Jawa Timur. Saya dan Alan sudah beberapa kali Gunung Panderman, sementara Hendrik dan Indro baru pertama kali naik gunung. Setelah mengemas peralatan, makanan dan gitar kecil lalu kami berangkat dan tiba di pos perijinan sekitar pukul 19.00. Tidak ada tanda-tanda bakal terjadi keanehan alias semua berjalan lancar dalam perjalanan. Namun perasaan kurang enak diikuti bulu kuduk berdiri mulai muncul saat beristirahat sambil duduk-duduk santai ketika hampir sampai puncak Gunung Panderman, sudah melewati Latar Ombo dan Watu Gede. Perasaan kurang enak seolah ada mahkluk dunia lain yang menghampiri itu muncul ketika Alan yang sudah tak asing dengan Gunung Panderman bercerita mistis. Sontak saya langsung berdiri dan memotong pembicaran lalu meminta untuk melanjutkan perjalanan. Tak seberapa lama kami sampai di Puncak Basundara. Tidak ada penampakan, bau busuk atau wangi selama perjalanan di malam itu. Namun perasaan seolah ada mahkluk dunia lain yang menguntit di belakang masih terus ada. Sesekali saya menoleh ke belakang tapi tidak melihat mantan, eh pendaki lain. Keanehan baru muncul saat kami bersantai sambil ngopi dan bermain gitar di Puncak Basundara yang waktu itu agak sepi. Selesai memainkan beberapa lagu dengan Indro, lalu saya letakkan gitar di samping saya. Tiba-tiba “jrenggg…”, gitar berbunyi sendiri dengan nyaring. Saya dan Indro saling bertatapan. Rupanya dia juga menyaksikan keanehan itu: tepat di atas senar gitar terdapat selembar daun. Raut muka Indro mulai terlihat ketakutan tapi saya berusaha menenangkan sambil berkata “onok sing ngajak kenalan Ndro! Nggak usah baper, cuma ngajak kenalan, nggak ngajak jadian kok, hahaa…”. Dan malam itu kami biarkan berlalu tanpa mengusut siapa yang iseng menggenjreng gitar.
Keesokan paginya saya ambil selembar daun yang masih berada di antara senar gitar. Dua, tiga kali daun itu saya gesekkan ke senar gitar tapi tidak menghasilkan suara genjrengan. Entah darimana jatuhnya daun itu tapi saya yakin tidak ada pohon di sekitar tempat itu yang memiliki bentuk daun seperti itu. Apakah saya perlu bertanya kepada rumput yang bergoyang darimana datangnya daun itu? Ah bodo amat!
Cuma ini aja min pengalaman mistisku, maaf ya kalo ngga serem hhe. Salam lestari ..Selesai~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: