Cerita

Pengalaman mistis di Merbabu

punya @ebsidik

Sebuah cerita yg baru buat kami kali ini, sebelumnya setiap pendakian semua lancar2 saja. Singkat cerita, pendakian waktu itu dimulai dari kantor resort/pintu masuk pukul 12.30 wib. Kami berenam (6), 4 laki-laki dan 2 perempuan, berasal dari kota depok dan jakarta sekitarnya.
Awal perjalanan kami tidak ada kendala apapun. sesekali hujan rintik2 dan sesekali turun kabut. Sepanjang kami berjalan semua tampak ceria dan bersemangat. Namun semua itu sirnah krn tiba2 situasi menjadi sangat mencekam ketika seorg tmn (1 perempuan) tergeletak pingsan setelah tikungan macan. Awalnya dijalur tsb sya mencium bau yg sgt pekat dan jijik (seperti kotoran manusia baunya) sya tanya yg ada d belakang sya, “apakah ada yg mencium bau busuk ???” Dan mereka menjawab : “tidak ada”; mangkanya sya lanjut lagi. Kira2 waktu itu pukul stgh 5 sore. Perjalanan kami sgt lambat dikarenakan turun hujan. Posisi sya saat itu di depan dan sdh mencapai pos 2. Sya beristirahat sejenak sambil menunggu tmn yg masih ada d belakang yg tertinggal. Berseling 10 menit tak kunjung tiba, perasaan tuh mulai tdk enak. Trnyta benar apa yg dikhawatirkan, seorang tmn menghampiri sya sambil berlari dgn nafas yg tersenggal-senggal, berkata : tolong, si “anu” pingsan dan gk tau knp tiba2 berteriak-teriak. Langsung gk pakai mikir panjang lagi, sya lepas carrier terus berlari menuju si “anu”. Lumayan jaraknya, turun saja bisa 5 menit dari pos 2. Tepatnya pas dititik sya mencium bau busuk tadi. Sontak, bulu kuduk merinding saat melihat tmn sya menggeram dan berbicara tdk jelas/karuan. Kebetulan dari bawah ada 2 pendaki lain asal klaten yg bertemu kami, ikut membantu. Tolong pegang kaki dan tangannya, “teriak sya” mari semua sama2 berdoa utk tmn kita. Sya pun berusaha sebisa sya utk menetralisir kan keadaan. Alhamdulillah, setelah 30menit suasana yg mencekam berlangsung, si anu terdiam dan tertidur lemas. Alhamdulillah juga, keadaan tmn sya sdh kembali pulih. Carriernya sementara dibawa yg lain sampai pos 2. Perlahan kami melanjutkan perjalanan kembali. Sesampainya di pos 3 jam stgh 7 mlm, Kami mau gk mau harus buka tenda, krn kondisi tmn yg semakin drop dan cuaca hujan mulai deras. Kemudian keadaan mulai hangat krn semua sdh masuk kedalam tenda. Kira2 jam 10 mlm, terdengar suara tangisan merintih sendu. Trnyata si “anu” “tertempel lagi” seperti di tengah trek sore tadi. Ampun dah, kondisi yg bgni sgt tdk diinginkan para pendaki. Teman perempuan kami yg lain, hanya bisa diam dan sesekali bibirnya bergerak melantunkan doa. bgtu beratnya pendakian kami kali ini, apakah kami harus turun kembali diesok paginya atau tidak ? “bgtulah perasaan yg ada d benak sya” tetapi sya percaya bahwa kita adalah manusia yg sempurna bahkan melebihi malaikat yg diciptakanNYA. Dgn usaha yg kami punya, kami melakukan “pengusiran setan” (mhn maaf jika yg baca ini ada yg tdk suka).
Lalu kami melakukan juga mediasi ke “para ahli2 penghuni gunung merbabu” trnyata, tmn sya yg satu ini sdh menarik dan mmg sejak kecilnya sering “diganggu” makhluk halus. jadi ketika naik gunung kali ini, sgt mudah bagi si “anu” utk tertempel yg bgtuan. Tau bgtukan gk akan kami izinkan utk ikut naik gunung kali ini. Kurang lebih waktu sdh pkl. 00.45 wib, kondisi sdh mulai tenang dan akhirnya sblm tidur sya taburi garam disekeliling tenda kami. Baru aja memejamkan mata, pkl. 01.25 wib badai angin menuruni tenda kami, selama 1 jam kurang kami harus Bersiaga menjaga tenda agar tidak terangkat angin kencang. Cerita punya cerita, sya mendengar sayup2 lantunan musik gamelan khas jawa ditengah2 pos 3. Mmg hnya 1 menitan saja sya mendengar lalu menghilang. Sya melihat thermal menunjukkan angka 1 derajat. pantas saja tangan ini berasa kaku. Perlahan cuaca mereda dan kamipun baru bisa beristirahat. Pagi harinya jam 7 pagi kami bangun dan sarapan lalu mengadakan briefing dadakan utk membahas kelanjutan pendakian. (jika para pembaca mengalami hal yg seperti ini apakah keputusan yg ada d benak kalian??)… berat mmg berat, tetapi semangat dari tmn2 yg lain membuat kami menjadi bulat dan 1 suara “lanjutkan pendakian”. Jam 08.30 wib kami mulai melanjutkan pendakian kembali menuju sabana 1. Tanpa ada kendala kami terus melanjutkan sampai sabana 2 dan watu lumpang. Walaupun bbrp menit sekali kami harus berhenti, tetapi kami gk mau kembali turun tanpa summmit. Badai angin, hujan deras, kabut pekat, dingin yg mencapai -2 derajat kami lalui setapak demi setapak (klo diingat lagi skrg, sya berfikir hanya ada kata, gilllakkk) dan akhirnya pkl 16.30 wib kami semua sampai di puncak kenteng songo. Hanya kami berenam, Luar biasa yg kami lalui, sehingga kami sampai juga dipuncak yg kami tuju dari 3 bln lalu. Sya menangis terharu dgn air mata sya takkan bisa tertahankan… dan yg lain pun juga menangis terharu. sungguh gak bisa diceritakan bgmn hati ini meluap. Diatas kami hanya 15menit bertahan krn badai angin dan kabut menerpa kami kembali dan bbrp kali geleduk terdengar persis diatas kami… sya mengambil keputusan untuk turun segera agar tdk terkena penyakit dingin. Kami melanjutkan perjalanan kembali dgn turun melalui jalur wekas, magelang. Disinilah kami mengalami cerita baru lagi dijalur ini. Selesai ~

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: