Cerita

PENGALAMAN MISTIS GUNUNG CIREMAI VIA LINGGARJATI

By ?? @cendanaputri16

Cerita kami, kami mulai pendakian dari pos registrasi pukul 08.00, kami berjumlah 10 orang (saya cendana, mala, laras, ipul, yudha, ayah agung, bunda mega, bang mbe, bang alpin, bang hendri). 6 cowo, 4 cewe. Posisi bunda mega lagi dapet/mens. Singkat cerita, saat pendakian naik baik2 saja, sampai di pos tanjakan Seruni pukul 16.00. Kami mendirikan tenda untuk bermalam dan rencana melanjutkan pendakian pukul 03.00. Alarm telah berdering menunjukkan pukul 03.00, kami pun bersiap2. Ttapi hanya bang Alpin yang tidak ikut naik, karna keadaan sedang tidak enak badan. Jadi kita ber9. Setelah berjalan jauh, sesampainya di pos Batu Lingga kami terpencar. Saya, bunda mega, dan bang Hendri jalan lebih dulu, dan yg lain jauh dibawah, kira2 beda 30menitan. Kita bertiga sampailah di puncak pukul 11.00 (-+1jam). Kita pun melanjutkan untuk turun dari puncak dan bertemu rombongan kami yg tertinggal di belakang. Namun kami betiga tetap melanjutkan turun, ditambah dengan bertemunya ayah agung dan ia memutuskan untuk ikut turun menemani isterinya (bunda mega). Jadi kita genap ber4. Sedangkan yg lain melanjutkan untuk summit. Pukul telah menunjukkan 18.00 waktunya adzan berkumandang, saya meminta bang hendri untuk break sejenak di tengah jalur yg bertikung, dengan view pohon besar2, dan disitulah perasaan saya mulai tidak enak, merasa ada yg memperhatikan kami. Pandangan saya pun fokus ke satu titik yaitu 3 pohon besar, saya melihat 3 mbak kunti diatas pohon tersebut, tepat di batang pohonnya yang menunjukkan wujud datang dan menghilang, mereka bergantian. Keadaan saya gemetar dan lgsg pindah posisi duduk, saya tidak bilang pd siapapun saat itu, namun bang hendri menyadari sikap saya dan bertanya “Kenapa cen”. “Nggak apa2 bang” jawab saya. Lajutlah kami turun, pada saat di jalur yg melewati dinding tanah, bunda mega merasa langkahnya amat berat dan beberapa kali mengalami salah langkah sehingga kakinya sakit. Bang hendri hanya memberitahu “Selalu baca2 istighfar teh” ucap bang hendri. Dan sampailah kami di pos Tanjakan Seruni pukul 18.57, tempat kami camping.

Bertemu bang alpin sangatlah senang, dia sudah lebih baik. Kami pun lgsg menghangatkan tubuh dgn membuat mie dan kopi/coklat & api unggun. Perasaan saya pun mulai tidak enak, merasa ada kejanggalan pada sekitar tempat kami berkemah. Tepatnya dekat api unggun/dinelakang bang alpin duduk. Saya dan bunda mega duduk di dalam tenda dgn kaki yg mengarah keluar, kita berbincang2 untk meramaikan suasana. Dan ketika itu, bunda mega terkejut dan keluar tenda menghampiri ayah agung dan berkata “Yah ada yang nyolek ibu”. Bang hendri pun hanya tersenyum dan berkata “Engga ada apa2 kok teh”. Keadaan mulai tegang. Dan tidak lama kemudian carrier yg ada di belakang saya jatuh, setelah itupun punggung saya merasa sakit dan berat, dan saya betanya ke bang hendri yg berada di depan saya. “Bang dibelakang saya ada apa sih kok berat”. Bang hendri hanya bilang “Engga ada apa”. Bang alpin lgsg duduk disamping saya dan spontan memijit punggung saya, berkata “Engga ada apa2 kok cen”. Singkat cerita, kami menunggu rombongan yg masih berada diatas, pukul menunjukkan 22.00 namun belum terlihat juga. Akhirnya bang hendri dan bang alpin memutuskan untk menyusul mereka. Pada pukul 24.00 turunlah mereka dgn keadaan temen saya mala tidak enak badan. Pada saat itu kami pun tidur. Pada pukul 02.00 yudha mengigau berteriak “Orang banyak, orang banyak”. Semua pun terbangun. Dan ayah agung bertanya, “Mbe bukan itu?, dan ada jawaban “BUKAN”. Okelah lanjut tidur. Pada keesokan hari pukul 10.00 kami bersiap dan melanjutkan turun menuju basecamp cibunar. Sesampainya di pos cibunar, brulah kami berani membuka cerita diatas sana. Bang hendri bercerita, pada saat magrib di jalur ia juga melihat mbak kunti yg seperti salah lihat. Dan ia bilang sosok yg menghalangi langkah bunda mega itu seorang anak kecil yg mengikuti. Dan pada saat di tenda yg mengganggu bunda mega sesosok kolong wewe.Dan yg menyender di punggung saya juga sesosok kolong wewe, dengan posisi tangan menaruh di punggung saya dengan kepala yg bergoyang2, seakan2 ingin bercanda dengan saya. Dan saat bercerita bang hendri bilang “Kalo lu gak bilang apa2, lu bakal ilang di depan gw”, Saat itu saya lgsg merinding dan takut. Lanjut, bang hendri masih bercerita. Pada saat teman saya yudha mengigau, dan ayah agung bertanya siapa, ternyata yg jawab “BUKAN” itu bukan jawaban dari temen2 kami, namun menurut bang hendri itu jawaban dari seorang pendaki yg hilang, yg masuk kedunia ghaib. Dan bukan hanya itu, sesosok kolong wewe pun masih menunggu di dekat tenda cewe2, dan ia ingin mendekat hanyak untk berteman, kata bang hendri. Kenapa diatas saya selalu menyebut bang hendri? Karna bang hendri adalah seorang indigo, atau bisa disebut dia juru kunci pendakian kami hehe. Berkat kelebihannya pada saat turun jalur kami selalu menemukan brankas air bersih yg siap diminum. Itu dia ambil dari dalam semak2 atau diluar jalur. Kenapa dia tau? Karna ada seseorang yg membisiki dia, entah siapa. Sekian cerita pengalaman mistis kami, semoga teman2 dapat kesempatan untk ke gunung ciremai via linggarjati ya, biar sama2 merasakan mistisnya hehehe. Tapi jgn lupa solat 5 waktunya walaupun itu di gunung, jaga sikap dan ucapan, selalu ucap salam, dan tidak boleh sombong, selalu solid kepada teman2 dan tahan ego. Selesai~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: