Cerita

Pesta “Rakyat” Gunung Burangrang

?? @renanda_a.s

27 Desember 2013
Ekspedisi Gunung Burangrang di mulai dari kampung Cihanjawar, Wanayasa, Purwakarta. Kami mulai berjalan pukul 09.00. Awalnya Saya (RainCoat Biru) pun sangat semangat. Kami berjalan menuju titik satu ke titik kordinat dua dan seterusnya. Awalnya semua biasa saja. Namun setelah sampai di Kebon Kopi (Kordinat 3) semua anggota baru (Cewek) tiba2 sangat kelelahan. Kami tetap berjalan dengan ritme yang sedikit melambat. Sudah sore. Saat itu hujan. Kita bersiap siap menggunakan jas hujan. Kita pun kembali berjalan. Sudah pukul 21.00 tapi kita belum juga sampai di camp ground. Kita pun menggunakan HT untuk koordinasi dengan tim yang akan menyusul (bersama juru kunci).
Mbah Eneng panggilannya. Jam 21.30 Mbah Eneng sudah sampai ketempat kita (Perbatasan Purwakarta dan Bandung) Situ Lembang pun terlihat jelas. Kita pun menuju Camp Area (Puncak Pamaenan). Namun setelah disana Mbah Eneng bilang “Kita campnya jangan disini, di bawah saja, dekat dengan air”
Kita pun mendirikan Camp di perempatan jalan (Puncak Pamaenan – Puncak Pasir Lenta – Mata Air – Arah Pulang)
Ada yang menggunakan tenda, ada yang menggunakan bivak saat itu. Malam sudah larut, Saya dan teman2 lain yang masih di luar (Karena kami memang tidur diluar) berbincang bincang.
Dan saat itu Mbah Eneng meminta semua kaki di ikat saling menyambung antara satu orang dengan yang lainnya. “Jang, hudangkeun A Randi, bantuan mere beja ka barudak, talian suku”
Saya yang memperhatikan pun mulai merasakan hal yang tidak enak. “Ah hanya perasaan, bawa enjoy saja” saya menyemangati diri saya sendiri. Semua sudah saling mengikat. Saya, A Randi, Ucup, A Uhan, Mbah Eneng. Tidur di luar di samping perapian. Dan tak terasa sudah jam 1 dini hari, malampun berbintang sangat banyak. Meski tertutup pepohonan yang rimbun, tetap indah bintang bersinar. Saya pun tidur lebih dulu. Belum lama saya tertidur, saya bangun dan melihat sekeliling. Ternyata sudah tertidur semua. Tiba2 saya mendengar suara gamelan, dan saya merasa ingin mencari tempat pesta “rakyat” itu. “Di tengah hutan………. (Lanjut di komen???) “Di tengah hutan, ada yang hajatan” gumam saya. Tapi ternyata Mbah Eneng tidak tertidur. “Ntong kadinya, sare deui weh” (jangan kesana, tidur lagi aja) begitu Mbah Eneng bicara pada saya. Saya tidak bisa tertidur lagi. Lalu teman saya A Randi bangun dan bicara “Mbah, dangukeun, aya nu ceurik jeung nu seseurian” (Mbah, dengerin, ada yang nangis dan ketawa ketawa). Saya bertiga yang saat itu bangun, merasa harus siap. Mbah Eneng mengusir suara2 itu dengan caranya. Suara pun mulai samar. Tapi, inilah yang membuat saya naik bulu kuduk. Tiba2 auman macan terdengar. Dan Mbah Eneng bilang “pereum, api2 sare buru” (tutup mata, pura2 tidur cepet). Kami pun melakukannya. Dan tiba2, kami semua di lintasi oleh Macan Putih dari arah Puncak Pamaenan ke Mata Air. Semua terjadi begitu saja. Pagi pun tiba. Semua seperti biasa saja dengan hari yang cerah. Semua prepare untuk kembali ke Cihanjawar. Kita sampai di Cihanjawar. Semua bersih bersih. Makan siang dan semua berjalan “sesuai” planning. Kita berkumpul (yang tidur di luar) dan saling bertanya. Tentang kejadian semalam. Ternyata bukan cuma Saya, A Randi, Mbah Eneng yang tau. Tapi semua yang tidur di luar. Tapi mereka hanya pura pura tidur dan tidak mengetahui apapun. Oh iya, harimau putih yang melintas. Bukan benar2 harimau. Selesai~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: