Perguruan Tinggi

Download laporan PTK doc Word

SAYA BERIKAN COPAS BEBERAPA DARI ISI FILE DOWNLOAD TANPA GAMBAR UNTUK MENJADI ACUAN ANDA. TOMBOL DOWNLOAD ADA DI BAWAH.

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG MASALAH

Kimia sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang pesat, baik materi maupun kegunaannya. Oleh sebab itu, berbagai faktor pendukung keberhasilan proses belajar mengajar kimia secara periodik terus dibenahi termasuk dalam upaya penyusunan kembali kurikulum kimia sekolah yang harus mempertimbangkan perkembangan kimia, pengalaman masa lalu, dan kemungkinan masa depan.

Guru sebagai salah satu tenaga kependidikan yang bersifat profesional bertugas membelajarkan anak didik agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Supaya anak didik dapat mencapai tujuan pembelajaran, mereka harus berada dalam kondisi yang memungkinkan mereka untuk dapat belajar. Selain peningkatan mutu kinerja guru sebagai komponen utama pendidikan yang dituntut untuk lebih profesional seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diera global sekarang ini, para siswa juga dituntut untuk mempunyai keterampilan kimia yang tinggi. Keterampilan yang diharapkan disini adalah keterampilan kimia yang dipelajari lewat demonstrasi dan latihan, seperti lembar kerja, pekerjaan di papan tulis bahkan tugas-tugas rumah.

Suatu ciri khas dalam pendidikan “modern” saat ini, hendaknya siswa dapat berpartisipasi aktif sedemikian hingga melibatkan intelektual dan emosional siswa di dalam proses belajarnya. Dengan demikian dapat diterjemahkan bahwa dalam setiap pembelajaran kimia harus diarahkan untuk pengembangan daya aktivitas siswa baik mental maupun fisik.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka solusi yang merupakan upaya meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa adalah dengan memberikan pengalaman langsung kepada siswa terhadap materi kimia melalui praktikum.

Masalah yang timbul adalah tidak semua sekolah mempunyai gedung laboratorium dengan peralatan praktek kimia yang lengkap. Kondisi ini terutama dialami oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selain SMK Pharmasi. Hal ini tentu tidak mendukung upaya pembelajaran kimia melalui pengalaman langsung oleh siswa terhadap konsep dan fakta kimia.

Sehubungan dengan itu, kami mencoba memberikan satu terobosan pembelajaran kimia dengan melaksanakan praktikum tanpa gedung laboratorium dan peralatan kimia yang mahal.

Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan selanjutnya menarik untuk ditelaah dalam bentuk penelitian dengan judul “ Efektifitas Penggunaan Media Interaktif Berbantuan Komputer Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Kimia Siswa SMK Negeri 8 Semarang Dalam Materi Hukum Guy Lussac dan Hukum Avogadro”

 

  1. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang, maka masalah yang timbul dapat diidentifikasi sebagai berikut :

  1. Siswa SMKN 8 Semarang kurang memiliki motivasi belajar karena adanya persepsi yang kurang positif terhadap mata pelajaran Kimia.
  2. Rendahnya nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas XII di SMK Negeri 8 Semarang tahun 2006 dalam mata pelajaran kimia yaitu 5.5 dengan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 60%. Hal ini akibat dari pembelajaran kimia yang masih bersifat tradisional, yang disebabkan : a) seringnya guru melakukan pembelajaran kimia yang pendekatannya satu arah, b) guru banyak bercerita tentang kimia, bukan pembelajaran dengan proses kimia, c) siswa menganggap kimia sebagai pelajaran hafalan., dan d) guru kurang mampu mengajarkan konsep kimia dengan menggunakan alat peraga.
  3. Tidak adanya laboratorium kimia dan alat-alat praktikum yang dimiliki oleh SMK Negeri 8 Semarang sehingga dalam pembelajaran kimia tidak pernah melaksanakan praktikum.

 

  1. PERUMUSAN MASALAH
    1. Perumusan Masalah
      1. Apakah pembelajaran kimia melalui penggunaan media interaktif berbantuan komputer dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Kimia siswa SMK Negeri 8 Semarang dalam materi Hukum Guy Lussac dan Hukum Avogadro?
      2. Apakah pembelajaran kimia melalui penggunaan media interaktif berbantuan komputer dapat meningkatkan hasil belajar Kimia siswa SMK Negeri 8 Semarang dalam materi Hukum Guy Lussac dan Hukum Avogadro?
    2. Pemecahan Masalah

Penggunaan media interaktif berbantuan komputer merupakan salah satu inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah yang terdapat pada rumusan masalah di atas.

  1. Definisi Operasional

Pembelajaran dengan  interaktif adalah belajar menggunakan sebuah media yang mempunyai daya tarik sehingga orang  yang menerima informasi tertarik dengan media tersebut dan di dalam pembelajaran tersebut terdapat interaksi secara langsung dengan media.

 

  1. TUJUAN PENELITIAN
  2. Untuk mengetahui apakah pembelajaran kimia melalui penggunaan media interaktif berbantuan komputer dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Kimia siswa SMK Negeri 8 Semarang dalam materi Hukum Guy Lussac dan Hukum Avogadro.
  3. Untuk mengetahui apakah pembelajaran kimia melalui penggunaan media interaktif berbantuan komputer dapat meningkatkan hasil belajar Kimia siswa SMK Negeri 8 Semarang dalam materi Hukum Guy Lussac dan Hukum Avogadro.

 

  1. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan IPTEK, khususnya pembelajaran Kimia dijenjang SMK antara lain :

  1. Bagi Siswa, hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat apabila siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep kimia dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru.
  2. Bagi Guru Kimia SMKN 8 Semarang, selain memberi pengalaman di dalam melakukan penelitian tindakan kelas, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan di dalam mengembangkan pembelajaran Kimia.
  3. Bagi Guru dan dosen Program Studi Pendidikan Kimia, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian untuk meningkatkan mutu yang berhubungan dengan materi maupun strategi pembelajaran sehingga produk yang dihasilkan dapat siap pakai dalam memberikan dan mencari alternatif pemecahan yang dihadapi dalam pembelajaran di kelas nantinya.

 

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

 

  1. LANDASAN TEORI
    1. Pengertian Belajar

Belajar dapat terjadi dengan sendirinya, dalam arti tanpa bantuan orang lain, tetapi ada kalanya memerlukan bimbingan sekalipun akhirnya yang belajar adalah pelajar itu sendiri. Inilah yang disebut belajar. Belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Dengan belajar manusia dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Tanpa belajar manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Beberapa dari sekian banyak ahli merumuskan dan mendefinisikan tentang belajar sebagai suatu perubahan. Menurut  W. S. Winkel (Psikologi Pengajaran, 2005;59) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu relatif konstan dan berbekas.

Sementara itu Ngalim Purwanto (1998) mengatakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, perubahan harus relatif mantap menyangkut berbagai aspek. James O Whittaker (dalam Darsono, 2000;4) juga mengungkapkan bahwa belajar adalah proses yang menimbulkan atau merubah perilaku melalui latihan atau pengalaman. Lebih jauh Whittaker mengatakan bahwa perubahan fisik (pertumbuhan) dan perubahan karena kematangan (maturitas) tidak termasuk belajar. Perubahan perilaku karena kelelahan, sakit dan akibat obat tidak termasuk belajar.

Dari beberapa rumusan dan definisi belajar tersebut di atas, istilah yang terdapat pada semua definisi adalah perubahan dan pengalaman. Dengan demikian, belajar adalah suatu proses yang menimbulkan atau merubah perilaku, pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap melalui latihan atau pengalaman.

  1. Prinsip-prinsip Belajar

Prinsip-prinsip belajar adalah hal-hal yang sangat penting yang harus ada dalam suatu proses belajar dan pembelajaran. Kalau hal-hal tersebut diabaikan, dapat dipastikan pencapaian hasil belajar tidak optimal. Prinsip-prinsip yang terkait dengan proses belajar terutama berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :

  1. Kesiapan belajar

Faktor kesiapan baik fisik maupun psikologis merupakan kondisi awal suatu kegiatan belajar. Kondisi fisik yang tidak kondusif, misalnya sakit dan kondisi psikologis yang kurang baik, misalnya gelisah, tertekan, tidak menguntungkan bagi kelancaran belajar.

  1. Perhatian

Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu obyek. Belajar sebagai suatu aktivitas kompleks sangat membutuhkan perhatian dari siswa yang belajar

  1. Motivasi

Motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif saat orang melakukan suatu aktivitas. Siswa harus memiliki motivasi dalam belajar sehingga tujuan belajar akan tercapai.

  1. Keaktifan siswa

Yang melakukan kegiatan belajar adalah siswa, oleh karena itu siswa harus aktif tidak boleh pasif. Dengan bantuan guru, siswa harus mampu mencari, menemukan, dan menggunakan pengetahuan yang dimiliknya.

  1. Keterlibatan langsung siswa

Dalam kegiatan belajar dan pembelajaran, siswa harus terlibat langsung sehingga mereka akan mudah memahami dan mengingat apa yang telah mereka pelajari

  1. Pengulangan belajar

Materi pelajaran ada yang mudah dan ada yang sukar. Untuk mempelajarinya siswa perlu membaca, berfikir, mengingat dan mengadakan latihan. Dengan latihan berarti siswa mengulang materi yang telah dipelajari sehingga materi tersebut makin mudah diingat. Dengan pengulangan, tanggapan tentang materi makin segar dalam pikiran siswa, sehingga makin mudah direproduksi

  1. Materi pelajaran yang merangsang dan menantang

Keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh rasa ingin tahu anak terhadap persoalan. Materi pelajaran yang merangsang dan menantang dapat membuat siswa menjadi aktif sehingga meningkatkan motivasi belajar

  1. Balikan dan penguatan terhadap siswa

Balikan adalah masukan yang sangat penting baik bagi siswa maupun guru, siswa mengetahui sejauh mana kemampuannya dalam suatu hal, di mana letak kekuatan dan kelemahannya. Untuk merealisir balikan ini, guru hendaknya memberitahukan kemajuan belajar siswa.

Penguatan adalah suatu tindakan yang menyenangkan dari guru terhadap siswa yang telah berhasil melakukan suatu perbuatan. Dengan penguatan, diharapkan siswa akan mengulangi lagi perbuatan yang sudah baik itu.

  1. Sumber Belajar

Menurut Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (AECT), sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberikan fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa. (Rahadi, 2003;6).

Sumber belajar meliputi :

  1. Pesan adalah informasi atau ajaran yang akan disampaikan oleh komponen belajar lain yang dapat berupa ide, fakta, ajaran, nilai, dan data.
  2. Orang adalah manusia yang berperan sebagai pencari, penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan.
  3. Bahan adalah perangkat lunak yang mengandung pesan-pesan belajar, yang biasanya disajikan menggunakan peralatan tertentu. Contohnya : buku teks, film, slide, dan lain-lain.
  4. Alat adalah perangkat keras yang digunakan untuk menyajikan pesan yang tersimpan dalam bahan. Contohnya: OHP, tape recorder, proyektor slide, dan lain-lain.
  5. Teknik adalah prosedur atau langkah-langkah tertentu yang disiapkan dalam menggunakan bahan, alat, lingkungan, dan orang untuk menyampaikan pesan. Misalnya : demonstrasi, diskusi, praktikum, dan lain-lain.
  6. Latar belakang atau lingkungan adalah situasi di sekitar terjadinya proses belajar mengajar dimana pebelajar menerima pesan. Lingkungan dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan fisik dan non-fisik. Contoh lingkungan fisik : gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain. Contoh lingkungan non-fisik : tata ruang belajar, ventilasi udara, cuaca, kebisingan lingkungan belajar. (Rahadi, 2003;6 – 7).

Ditinjau dari tipe atau asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

  1. Sumber belajar yang dirancang, yaitu sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Sumber belajar semacam ini sering disebut bahan pembelajaran. Contohnya adalah buku pelajaran, modul, program audio, program slide suara, transparansi.
  2. Sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan, yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Contohnya : pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, museum, dan lain-lain.

Wujud interaksi antara siswa dengan sumber belajar dapat bermacam-macam. Cara belajar dengan mendengarkan ceramah guru memang merupakan salah satu wujud interaksi tersebut. Namun belajar hanya dengan mendengar saja patut diragukan efektivitasnya. Belajar hanya akan efektif jika si belajar diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu, melalui multi-metode dan multi-media.

  1. Pembelajaran

Max Darsono (2004;24) berpendapat pengertian pembelajaran secara umum adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Sedangkan pengertian pembelajaran secara khusus adalah usaha guru untuk membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus) agar dapat terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan).

Untuk mewujudkan kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, seorang guru perlu memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik pembelajaran yang dianggap paling tepat dan efektif sebagai pegangan dalam pembelajaran. Selain itu penggunaan media pembelajaran yang bervariatif juga salah satu faktor lain yang mendukung keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

  1. Metode Pembelajaran

Dalam kegiatan pembelajaran seorang guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar efektif, efisien, dan mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu syarat agar dapat memiliki strategi pembelajaran yang tepat adalah guru harus menguasai teknik-teknik penyajian yang disebut metode pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat merupakan awal dari keberhasilan kelanjutan proses pembelajaran yang bermutu. Proses pembelajaran yang bermutu akan berkelanjutan secara efektif dan efisien dampaknya pada siswa. Siswa akan antusias selama proses pembelajaran yang pada akhirnya belajarnyapun akan optimal.

Dalam pembelajaran kimia diperlukan pemahaman terhadap konsep dan teorema-teorema yang berlaku di dalam kimia karena pemahaman yang mendalam akan memudahkan siswa untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Salah satu cara adalah dengan memperbanyak latihan soal yang menuntut siswa untuk aktif dan kreatif. Metode pemberian tugas merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran kimia.

Menurut Tim MKPBM (2001;185) metode ini biasa cukup disebut dengan metode tugas. Tugas yang paling sering diberikan dalam pembelajaran kimia adalah pekerjaan rumah yang diartikan sebagai latihan menyelesaikan soal-soal. Maksud pemberian soal-soal pekerjaan rumah adalah agar siswa terampil menyelesaikan soal, lebih memahami, dan mendalami pelajaran yang diberikan di sekolah.

Selain itu juga agar siswa terbiasa belajar sendiri, menumbuhkan rasa tanggungjawab, dan sikap positif terhadap kimia. Sering memberikan tugas dengan soal-soal yang banyak dan sukar dapat menyebabkan siswa putus asa. Komposisi soal hendaknya terdiri atas yang mudah, sedang, sukar dan tidak terlalu banyak.

Kelebihan metode pemberian tugas antara lain siswa mengalami dan mendalami sendiri pengetahuan yang didapatkannya, sehingga pengetahuan itu akan tinggal lama dalam jiwanya. Apalagi dalam melaksanakan tugas ditunjang dengan minat dan perhatian siswa serta kejelasan tujuan mereka bekerja. Dalam hal ini siswa juga mengembangkan daya berfikirnya sendiri, daya inisiatif, daya kreatif, tanggung jawab, dan melatih kemandirian.

Menurut Hartono Kasmadi (1991;138), ada beberapa maksud pemberian tugas kepada siswa :

  1. Latihan ketrampilan, untuk menambah kecepatan belajar dan keakuratan bahan
  2. Membaca, meresapkan, dan meringkas apa yang telah dipelajari
  3. Mendorong siswa bertanggung jawab terhadap pelajaran
  4. Mengatur waktu belajar
  5. Mengembangkan kemampuan belajar mandiri

Untuk lebih memberikan nilai tambah dari maksud di atas maka hendaknya guru melihat kembali dalam waktu tidak terlalu lama, tugas siswa itu bersama-sama.

Sementara itu ada dua bentuk pemberian tugas :

  1. Latihan yang bersifat prepatori, yaitu untuk mempersiapkan sebelum belajar di kelas dan guru menunjukkan bab atau bagian dari pelajaran yang harus dibaca di rumah, atau tugas-tugas lainnya.
  2. Latihan lanjutan, yaitu untuk melengkapi bahan yang sudah diajarkan dan siswa-siswa menyusun tugas latihan untuk pengkayaan di luar kelas.

Keuntungan yang diperoleh :

  1. Dikerjakan berdasarkan kemampuan individual dan mandiri
  2. Siswa mengerjakan secara bebas
  3. Dalam arti khusus ada pengalihan tugas guru yang dikerjakan siswa
  4. Siswa belajar berdasarkan kecepatan sendiri
  5. Beberapa tugas kadang-kadang menunjukkan realitas kehidupan di masyarakat

Kekurangan yang dirasakan :

  1. Hanya menunjukkan pengetahuan dan ketrampilan terbatas
  2. Membosankan bagi siswa yang lamban
  3. Lambat mentransfer pengetahuan
  4. Mengurangi waktu siswa untuk istirahat atau santai

Akan tetapi latihan dan tugas pekerjaan rumah akan memiliki dampak yang positif yakni mampu menambah kecepatan akan memahami materi dan keterlibatan bapak, ibu atau keluarga lain dan masyarakat untuk memperhatikan belajar anak.

Tugas latihan yang bersifat independen harus direncanakan dengan cermat dan hati-hati. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat tugas adalah :

  1. Merupakan bagian yang penting dari bahan belajar
  2. Jelas sehingga akan tepat dikerjakan
  3. Lingkup terbatas dan definitif
  4. Tidak terlampau banyak dan lama
  5. Sedapat mungkin dikerjakan secara mandiri tanpa bantuan dari teman, keluarga atau orang terdekat
  6. Nilai segera pekerjaan siswa

Selain itu guru juga perlu memperhatikan waktu istirahat anak di rumah, tugas rumah yang lebih dari 2 jam dari waktu belajar sudahlah maksimum. Pemberian tugaspun harus bervariasi, salah satunya adalah dengan menggunakan media komputer untuk menyelesaikan latihan soal evaluasi.

  1. Media Pembelajaran

Salah satu usaha untuk memberikan variasi dalam pembelajaran kimia adalah dengan menggunakan media pendidikan kimia yang cenderung disebut sebagai alat peraga kimia.

Media pendidikan kimia yang cenderung disebut sebagai alat peraga kimia juga didefinisikan sebagai suatu alat peraga yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pembelajaran yang telah dituangkan dalam Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) mata pelajaran kimia dan bertujuan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar (Darhim, 1993;5).

Media pembelajaran memiliki beberapa nilai praktis diantaranya:

  1. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan pengalaman siswa
  2. Media pembelajaran dapat membangkitkan semangat belajar yang baru dan membangkitkan motivasi serta merangsang kegiatan siswa dalam belajar
  3. Media pembelajaran dapat mempengaruhi abstraksi
  4. Media pembelajaran dapat memperkenalkan, memperbaiki, meningkatkan, dan memperjelas pengertian konsep dan fakta
  5. Media dapat membantu mengatasi keterbatasan indera manusia
  6. Media dapat mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu
  7. Media dapat menyajikan obyek pelajaran berupa benda atau peristiwa langka dan berbahaya ke dalam kelas. (Rahadi, 2003 ; 18-19).
    1. Komputer Sebagai Media Pembelajaran

Di dalam setiap pembelajaran umumnya digunakan media pembelajaran atau sarana teknologi pembelajaran. Hal ini berdasarkan pandangan behaviourisme yaitu bahwa proses pembelajaran terjadi sebagai hasil pengajaran yang disampaikan oleh guru melalui atau dengan bantuan media. Namun dalam pandangan konstruktivisme, media digunakan sebagai sesuatu yang memberikan kemungkinan siswa secara aktif mengkontruksi pengetahuan. Dalam kerangka berpikir konstruktivisme tersebut, belajar dipandang sebagai suatu aktifitas siswa mengelola sumber-sumber kognitif untuk menciptakan pengetahuan baru dengan mengekstrak informasi dari lingkungannya dan mengintegrasikannya dengan informasi yang telah menjadi pengetahuan  yang tersimpan dibenaknya. (Krismanto, 2003;4).

Para peneliti telah menemukan bahwa ada berbagai cara siswa mudah memproses informasi. Sebagian mudah memproses informasi visual, sebagian lain lebih merasa senang atau lebih mudah bila ada suara, dan sebagian lain akan mudah memahami jika menggunakan informasi tertulis.

Komputer adalah salah satu media yang dapat mentranformasi berbagai simbol dalam informasi dari bentuk yang satu ke bentuk lainnya. Siswa dapat mengetik teks, dan komputer yang canggih dapat mentranformasikannya ke dalam bentuk lain, misalnya gambar bahkan suara. Komputer dapat mentransformasikan angka-angka ke dalam bentuk grafik atau kurva.

Salah satu bagian penting dalam pembelajaran kimia di sekolah adalah terbentuknya kemampuan siswa memahami hubungan antara sistem simbolik dan keadaan yang sesungguhnya dalam kehidupan yang disimbolkan. Guru, siswa, dan media merupakan tiga komponen terkait yang dapat menciptakan kondisi efektif tidaknya kegiatan pembelajaran. Dengan demikian ketiganya sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. (Krismanto, 2003;5).

Komputer sebagai sarana interaktif merupakan salah satu bentuk pembelajaran terprogram yang dilandasi oleh Hukum Akibat. Dalam Hukum Akibat asumsi utama yang diyakini ialah tingkah laku yang diikuti oleh rasa senang besar kemungkinannya untuk dilakukan atau diulang dibandingkan tingkah laku yang tidak disenangi. (Krismanto, 2003;6).

Berdasarkan Hukum Akibat ini muncullah Teori S-R (yang meliputi stimulus, respons and reinforcement). Pembelajaran dengan teori ini dilakukan dengan cara siswa diberi pertanyaan sebagai stimulus, kemudian ia memberikan jawaban (respons) dari pertanyaan yang diberikan. Selanjutnya oleh komputer respons siswa ditanggapi dan jika jawabannya benar komputer memberikan penguatan (reinforcement). Jika salah komputer memberikan pertanyaan lain yang memuat dorongan untuk memperbaiki jawaban siswa. (Krismanto, 2003;6).

Balikan yang berupa penguatan merupakan salah satu bentuk motivasi bagi siswa. Tanpa balikan siswa tidak tahu kebenaran dari jawaban mereka, tidak tahu seberapa jauh keberhasilan mereka.

Keuntungan pembelajaran menggunakan media komputer antara lain :

  1. Pembelajaran berbantuan komputer bila dirancang dengan baik, merupakan media pembelajaran yang efektif, dapat memudahkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran
  2. Meningkatkan motivasi belajar siswa
  3. Mendukung pembelajaran individual sesuai kemampuan siswa
  4. Dapat digunakan sebagai penyampai balikan langsung
  5. Materi dapat diulang-ulang sesuai keperluan, tanpa menimbulkan rasa jenuh

Sedangkan keterbatasan pembelajaran menggunakan media komputer adalah :

  1. Keterbatasan bentuk dialog atau komunikasi
  2. Keterseringan menggunakan komputer dapat menyebabkan ketergantungan yang berakibat kurang baik
  3. Mengurangi sikap interaksi sosial yang seharusnya merupakan bagian penting dalam pendidikan. (Krismanto, 2003 : 8).
    1. Karakteristik Ilmu Kimia

Wiseman (1981) mengemukakan bahwa ilmu kimia merupakan salah satu pelajaran tersulit bagi kebanyakan siswa menengah dan mahasiswa. Kesulitan mempelajari ilmu kimia ini terkait dengan ciri-ciri ilmu kimia itu sendiri yang disebutkan dalam  Kean dan Middlecamp (1985) sebagai berikut :

  1. Sebagian besar ilmu kimia bersifat abstrak

Atom, molekul dan ion merupakan materi dasar kimia yang tidak nampak, yang menuntut siswa dan mahasiswa membayangkan keberadaan materi tersebut tanpa mengalaminya secara langsung. Karena atom merupakan pusat kegiatan kimia, maka walaupun kita tidak melihat atom secara langsung, tetapi dalam angan-angan kita dapat membentuk suatu gambar untuk mewakili sebuah atom, misalnya sebuah atom oksigen kita gambarkan sebagai bulatan.

 

 

  1. Ilmu kimia merupakan penyederhanaan dari yang sebenarnya.

Kebanyakan obyek yang ada di dunia ini merupakan campuran zat-zat kimia yang kompleks dan rumit. Agar segala sesuatunya mudah dipelajari, maka pelajaran kimia dimulai dari gambaran yang disederhanakan, dimana zat-zat dianggap murni atau hanya mengandung dua atau tiga zat saja. Dalam penyederhanaannya diperlukan pemikiran dan pendekatan tertentu agar siswa atau mahasiswa tidak mengalami salah konsep dalam menerima materi yang diajarkan tersebut.

  1. Sifat ilmu kimia berurutan dan berkembang dengan cepat.

Seringkali topic-topik ilmu kimia harus dipelajari dengan urutan tertentu. Misalnya, kita tidak dapat menggabungkan atom-atom membentuk molekul, jika atom dan karakteristiknya tidak dipelajari terlebih dahulu. Di samping itu, perkembangan ilmu kimia itu sangat cepat, seperti pada bidang biokimia yang menyelidiki tentang rekayasa genetika, kloning dan sebagainya. Hal ini menuntut kita semua untuk lebih cepat tanggap dan selektif dalam menerima semua kemajuan tersebut.

  1. Ilmu kimia tidak hanya sekedar memecahkan soal-soal.

Memecahkan soal-soal yang terdiri dari angka-angka (soal numerik) merupakan bagian yang penting dalam mempelajari kimia. Namun, kita juga harus mempelajari deskripsi seperti fakta kimia, aturan-aturan kimia, peristilahan kimia dan lain-lain.

  1. Bahan/materi yang dipelajari dalam ilmu kimia sangat banyak.

Dengan banyaknya bahan yang harus dipelajari, siswa ataupun mahasiswa dituntut untuk dapat merencanakan belajarnya dengan baik, sehingga waktu yang tersedia dapat digunakan seefisien mungkin.

 

  1. KERANGKA BERPIKIR

Kerangka berpikir dalam penelitian ini mengikuti skema sebagai berikut :

 

Tujuan Pembelajaran Kimia
Penggunaan media interaktif berbantuan komputer dalam materi Hukum guy Lussac dan Hukum Avogadro
Peningkatan hasil belajar kimia siswa

 

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas diduga melalui penggunaan media interaktif berbantuan komputer dapat meningkatkan kualitas pembelajaran kimia siswa SMK Negeri 8 Semarang.

 

  1. HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah penggunaan media interaktif berbantuan komputer dapat meningkatkan kualitas pembelajaran kimia siswa SMK Negeri 8 Semarang.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. Lokasi dan Waktu Penelitian
  2. Lokasi Penelitian

Tempat Penelitian Tindakan Kelas ini di SMK Negeri 8 Semarang.

  1. Waktu Penelitian

Kegiatan penelitian dilaksanakan mulai tanggal 27 Agustus sampai dengan  15 Nopember 2007.

 

  1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa kelas II TI1 SMK Negeri 8 Semarang pada semester gasal tahun pelajaran 2007/2008 yang berjumlah 40 orang, terdiri dari 34 siswa perempuan dan 6 siswa laki-laki.

 

  1. Prosedur Penelitian

Penelitian dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada siklus pertama terdiri dari dua kali pelaksanaan tindakan pembelajaran (dua kali pertemuan) dan siklus kedua juga dua kali pelaksanaan tindakan pembelajaran (dua kali pertemuan). Secara lebih rinci langkah-langkah penelitian pada pertemuan satu siklus pertama adalah sebagai berikut .

 

  1. Perencanaan 1
    1. Membuat rencana pembelajaran pertemuan 1 (lampiran 2)
    2. Membuat lembar observasi aktifitas guru dalam pembelajaran (lampiran 22)
    3. Membuat lembar observasi aktifitas siswa dalam pembelajaran (lampiran 26).
    4. Membuat lembar kerja siswa (LKS) 01 (lampiran 6).
    5. Membuat kunci jawaban LKS 01 (lampiran 10).
    6. Membuat soal atau tugas untuk pekerjaan rumah / PR 01 (lampiran 14)
    7. Membuat kunci jawaban PR 01 (lampiran 18).
    8. Menyiapkan media interaktif berbantuan komputer dalam bentuk CD yang sudah berisi program aplikasi Microsoft Powerpoint dan Macromedia Flash dengan materi pokok Hukum Guy Lussac.
  2. Pelaksanaan tindakan pembelajaran 1

Kegiatan Pembelajaran 1 dilaksanakan pada tanggal 10 September 2007 dalam kegiatan belajar mengajar, guru menyampaikan materi luas permukaan tabung dengan bantuan media interaktif sesuai langkah pemelajaran pada rencana pemelajaran pertemuan 1 (siklus 1). Metode pembelajaran yang digunakan adalah tanya jawab dan diskusi. Kegiatan ini dilaksanakan di kelas II TI 1 dengan bantuan laptop, LCD, dan CD yang berisi paket program aplikasi Microsoft Powerpoint Macromedia Flash. Kegiatan pembelajaran ini diamati oleh guru kimia lain dengan tujuan untuk mengetahui letak kesulitan dan kelemahan yang terjadi di dalam kelas.

  1. Observasi 1
    1. Guru terlalu sedikit memberikan apersepsi yang berhubungan dengan materi.
    2. Guru kelihatan masih kurang terampil mengoperasikan laptop dan terlalu cepat dalam menyampaikan materi.
    3. Pertanyaan yang diberikan guru kurang menyebar kepada siswa – siswa yang lainnya.
    4. Belum semua siswa berani mengemukakan pendapat.
  2. Refleksi 1

Setelah kegiatan pembelajaran selesai dilaksanakan dan dilanjutkan dengan refleksi untuk membahas hasil observasi yang telah dilakukan, selanjutnya guru dan pengamat memperoleh kesepakatan tentang hal – hal berikut

  1. Pada awal pembelajaran guru perlu menjelaskan tujuan pembelajaran pada kegiatan yang akan dilakukan dan apersepsi lebih dikembangkan lagi.
  2. Guru perlu lebih terampil lagi dalam mengoperasikan laptop
  3. Siswa perlu lebih banyak diberi kesempatan berfikir dalam menjawab pertanyaan ataupun mengemukakan pendapat
  4. Pertanyaan yang diberikan guru lebih menyebar kepada siswa – siswa yang lainnya.

Setelah pertemuan pertama pada siklus pertama selesai dilanjutkan dengan pertemuan kedua pada siklus pertama. Langkah – langkah penelitian pada pertemuan kedua siklus pertama adalah sebagai berikut .

  1. Perencanaan 2
    1. Membuat rencana pembelajaran pertemuan 2 (lampiran 3)
    2. Membuat lembar observasi aktifitas guru dalam pembelajaran (lampiran 23)
    3. Membuat lembar observasi aktifitas siswa dalam pembelajaran (lampiran 27).
    4. Membuat lembar kerja siswa (LKS) 02 (lampiran 7).
    5. Membuat kunci jawaban LKS 02 (lampiran 11).
    6. Membuat soal atau tugas untuk pekerjaan rumah / PR 02 (lampiran 15)
    7. Membuat kunci jawaban PR 02 (lampiran 19).
    8. Menyiapkan media interaktif berbantuan komputer dalam bentuk CD yang sudah berisi program aplikasi Microsoft Powerpoint dan Macromedia Flash dengan materi pokok Hukum Avogadro.
    9. Membuat kisi-kisi penulisan soal evaluasi 1 (lampiran 30).
    10. Membuat soal evaluasi 1 (lampiran 31).
    11. Membuat kunci jawaban evaluasi 1 (lampiran 32).
    12. Membuat norma penilaian evaluasi 1 (lampiran 33).

 

  1. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran 2

Kegiatan pembelajaran sebagai pelaksanaan tindakan 2 dilaksanakan pada tanggal 17 September 2007. dalam kegiatan belajar mengajar, guru menyampaikan materi Hukum Avogaro sesuai langkah pembelajaran pada rencana pembelajaran pertemuan kedua siklus I dengan menggunakan media interaktif berbantuan laptop, LCD, dan CD. Kegiatan pembelajaran  dilaksanakan di kelas II TI1 dengan  metode pembelajaran yang digunakan yaitu tanya jawab dan diskusi.

  1. Observasi 2
    1. Guru telah memberikan apersepsi yang berhubungan dengan materi dengan baik.
    2. Guru sudah terlihat terampil dalam mengoperasikan laptop dan tidak terlalu cepat dalam menyampaikan materi.
    3. Pertanyaan guru sudah menyebar diberikan kepada siswa – siswa.
    4. Kesempatan siswa untuk mencoba media interaktif masih kurang, karena hanya ada 1 komputer atau laptop di kelas sehingga ada sebagian siswa yang belum mempunyai kesempatan mencobanya.
  2. Refleksi 2

Setelah kegiatan pembelajaran selesai dilaksanakan, dilanjutkan refleksi untuk membahas hasil observasi yang telah dilakukan pada tanggal 24 September 2007. Hasil dari refleksi adalah siswa perlu lebih banyak mencoba sendiri soal – soal yang diberikan guru dengan bantuan media komputer. Kegiatan pembelajaran sebaiknya tidak di kelas tapi di laboratorium komputer, sehingga siswa merasa puas dan leluasa menggunakan media interaktif yang diberikan guru.

  1. Evaluasi hasil belajar 1

Setelah kegiatan pelaksanaan siklus I selesai dilaksanakan, maka pada tanggal 1 Oktober 2007 diadakan tes hasil belajar siswa.

Hasil refleksi 2 pada siklus I digunakan untuk penyempurnaan tindakan pada siklus ke II. Secara lebih rinci langkah – langkah pada pertemuan I siklus II adalah sebagai berikut .

  1. Perencanaan 1
    1. Membuat rencana pembelajaran pertemuan 1 (lampiran 4)
    2. Membuat lembar observasi aktifitas guru dalam pembelajaran (lampiran 24)
    3. Membuat lembar observasi aktifitas siswa dalam pembelajaran (lampiran 28).
    4. Membuat lembar kerja siswa (LKS) 03 (lampiran 8).
    5. Membuat kunci jawaban LKS 03 (lampiran 12).
    6. Membuat soal atau tugas untuk pekerjaan rumah / PR 03 (lampiran 16)
    7. Membuat kunci jawaban PR 03 (lampiran 20).
    8. Menyiapkan media interaktif berbantuan komputer dalam bentuk CD yang sudah berisi program aplikasi Microsoft Powerpoint dan Macromedia Flash dengan materi pokok luas permukaan limas.
  2. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran 1

Kegiatan pembelajaran pertama pada siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2007. Dalam kegiatan pembelajaran guru menyampaikan Hukum Guy Lussac dengan bantuan media interaktif berbantuan komputer sesuai langkah pembelajaran pada rencana pembelajaran pertemuan 1 siklus II . Kegiatan pembelajaraannya dilaksanakan di laboratorium komputer. Siswa dibagi dalam 20 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 2 orang. Masing – masing kelompok menghadapi 1 unit komputer dan di beri CD yang sudah berisi materi pembelajaran. Setiap kelompok diberi keleluasaan untuk mencoba sendiri soal – soal yang ada dalam CD, dan guru sebagai fasilitator.

  1. Observasi 1
    1. Guru lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menyelesaikan soal – soal yang ada dalam CD.
    2. Selama kegiatan berlangsung guru berkeliling dan terus mengecek jawaban yang diberikan siswa.
    3. Belum semua siswa terampil mengoperasikan komputer
    4. Kerjasama kelompok sudah baik.
    5. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk merangkum materi.
  2. Refleksi 1
    1. Guru perlu membimbing siswa yang belum terampil mengoperasikan komputer.
    2. Kerjasama kelompok masih perlu dimaksimalkan, siswa yang sudah terampil menggunakan media interaktif dimotivasi untuk membantu temannya yang belum terampil.

Setelah pertemuan 1 pada siklus II selesai, dilanjutkan dengan pertemuan kedua pada siklus II. Langkah-langkah penelitian pada pertemuan 2 siklus II adalah sebagai berikut.

  1. Perencanaan 2
    1. Membuat rencana pembelajaran pertemuan 2 (lampiran 5)
    2. Membuat lembar observasi aktifitas guru dalam pembelajaran (lampiran 25)
    3. Membuat lembar observasi aktifitas siswa dalam pembelajaran (lampiran 29).
    4. Membuat lembar kerja siswa (LKS) 04 (lampiran 9).
    5. Membuat kunci jawaban LKS 04 (lampiran 13).
    6. Membuat soal atau tugas untuk pekerjaan rumah / PR 04 (lampiran 17)
    7. Membuat kunci jawaban PR 04 (lampiran 21).
    8. Menyiapkan media interaktif berbantuan komputer dalam bentuk CD yang sudah berisi program aplikasi Microsoft Powerpoint dan Macromedia Flash dengan materi pokok Hukum Avogadro.
    9. Membuat kisi-kisi penulisan soal evaluasi 2 (lampiran 37).
    10. Membuat soal evaluasi 2 (lampiran 38).
    11. Membuat kunci jawaban evaluasi 2 (lampiran 39).
    12. Membuat norma penilaian evaluasi 2 (lampiran 40).
  2. Pelaksanaan Tindakan 2

Kegiatan pembelajaran kedua pada siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2007. Dalam kegiatan pembelajaran kedua ini proses pelaksanaannya sama dengan kegiatan pembelajaran pertama pada siklus kedua, hanya saja materi pada pembelajaran ini adalah Hukum Avogadro sesuai langkah pembelajaran pada rencana pembelajaran pertemuan 2 siklus II.

  1. Observasi 2

Siswa semakin aktif dalam kegiatan pembelajaran dan semakin berani untuk mengemukakan pendapat.

  1. Refleksi 2

Dengan media interaktif guru tidak harus menjelaskan materi secara berulang – ulang, karena siswa dapat melihat, menyentuh, merasakan atau mengalami sendiri melalui media.

  1. Evaluasi Hasil Belajar 2

Setelah kegiatan pelaksanaan siklus II selesai dilakukan, maka pada tanggal 5 November 2007 diadakan tes hasil belajar siswa.

 

  1. Indikator Keberhasilan

Peningkatan kualitas pembelajaran kimia siswa SMK Negeri 8 Semarang melalui penggunaan media interaktif, dapat dilihat dari presentase aktivitas siswa dalam pembelajaran 70% dan persentase ketuntasan hasil belajar  80 %.

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Hasil dan Pembahasan Siklus I
    1. Hasil siklus I

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus 1 dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Rencana pembelajaran 1 secara rinci dapat dilihat pada lampiran 2 ( halaman 54). Sedangkan rencana pembelajaran 2 dapat dilihat pada lampiran 3 halaman 59, Kegiatan belajar mengajar dilakukan di kelas 2 TI 1 dengan menggunakan media interaktif berbantuan komputer. Guru menggunakan 1 komputer (laptop, LCD, dan CD yang sudah terisi program interaktifnya.

Rata – rata hasil tes pada siklus pertama adalah 7,19 dan ketuntasan belajarnya 77,42%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 36 halaman 114.

Hasil observasi aktivitas guru dalam pembelajaran diperoleh data sebagai berikut .

  1. Pada pembelajaran I (Senin, 10 September 2007) persentase aktivitas guru dalam pengelolaan pembelajaran adalah sebesar 71,15 %
  2. Pada pembelajaran II (Senin, 17 September 2007) persentase aktivitas guru dalam pengelolaan pembelajaran adalah sebesar 76,92%. Terlihat bahwa pada pembelajaran II terdapat peningkatan sebesar 5,77%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 22 halaman 95 dan lampiran 23 halaman 96

Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran diperoleh data sebagai berikut.

  1. Pada pembelajaran I (Senin, 10 September 2007) persentase aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah sebesar 65%
  2. Pada pembelajaran II (Senin, 17 September 2007) persentase aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah sebesar 70%. Terlihat bahwa pada pembelajaran II terdapat peningkatan sebesar 5%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 26 halaman 99 dan lampiran 27 halaman 100

 

  1. Pembahasan Siklus I

Setelah dilakukan pembelajaran di kelas, yaitu pembelajaran dengan menggunakan media interaktif berbantuan komputer, terlihat bahwa rata-rata hasil belajar adalah 7,19, dan ketuntasan belajarnya 77,42%. Ini menandakan bahwa pembelajaran di kelas dengan media interaktif berbantuan komputer belum berhasil sesuai harapan, karena harapan ketuntasan belajar adalah 80%. Aktivitas siswa juga masih kurang, karena di kelas hanya menggunakan 1 komputer (laptop) akibatnya siswa kurang banyak mempunyai kesempatan mencoba sendiri media interaktif tersebut.  Oleh karena itu perlu ada perbaikan pembelajaran pada siklus II. Pembelajaran pada siklus II dilaksanakan di laboratorium komputer, dengan 1 komputer untuk 2 siswa agar aktivitas siswa semakin meningkat dan siswa lebih memahami konsep abstrak melalui penggunaan media interaktif dengan lebih banyak kesempatan mencoba sendiri menggunakan media tersebut.

 

  1. Hasil dan Pembahasan Siklus II
  2. Hasil siklus II

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II juga dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Rencana pembelajaran 1 pada siklus II secara rinci dapat dilihat pada lampiran 4 halaman 64 sedangkan pada rencana pembelajaran kedua dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 69 Kegiatan belajar mengajar pada siklus II dilakukan di laboratorium komputer dengan menggunakan media interaktif sesuai dengan langkah – langkah pada rencana pembelajaran

Rata – rata hasil tes pada siklus kedua adalah 7,74 dan ketuntasan belajarnya 83,87% untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 42-43 halaman 122 – 123.

Hasil observasi aktivitas guru dalam pembelajaran diperoleh data sebagai berikut .

  1. Pada pembelajaran I (Senin, 22 Oktober 2007) persentase aktivitas guru dalam pengelolaan pembelajaran adalah sebesar 80,77 %
  2. Pada pembelajaran II (Senen, 29 Oktober 2007) persentase aktivitas guru dalam pengelolaan pembelajaran adalah sebesar 88,46 %. Terlihat bahwa pada pembelajaran II terdapat peningkatan sebesar 7.69 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 24 – 25 halaman 87 – 98 .

Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran diperoleh data sebagai berikut.

  1. Pada pembelajaran I (Senin, 22 Oktober 2007) persentase aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah sebesar 80%
  2. Pada pembelajaran II (Senin, 29 Oktober 2007) persentase aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah sebesar 85%. Terlihat bahwa pada pembelajaran II terdapat peningkatan sebsar 5%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 28 – 29 halaman 101 – 102 .

 

  1. Pembahasan Siklus II

Setelah dilakukan pembelajarn di laboratorium. komputer yaitu pembelajaran dengan menggunakan media interaktif  berbantuan komputer dengan 1 komputer untuk 2 siswa ternyata nilai rata-rata kelas dan ketuntasan belajar mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I, demikian juga aktivitas siswa mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena siswa mempunyai banyak kesempatan mencoba sendiri media pembelajaran karena jumlah komputernya lebih banyak bila dibandingkan pada siklus I. Suasana be;ajar menyenangkan karena ssiwa-ssiwa termotivasi, tertarik dan senang dalam menggunakan media pembelajaran. Analisis dan refleksi keseluruhan siklus menunjukkan bahwa hasil kualitas pembelajaran dapat di optimalkan jika ada dukungan dari berbagai aspek, selain metode pembelajaran yang dipilih guru, kondisi siswa, materi pelajaran, fasilitas sekolah dan yang lebih penting adalah kesungguhan guru dalam mengajar .

 

DIAGARAM BATANG

TENTANG  KETUNTASAN BELAJAR TIAP SIKLUS

 

Tabel 1. Deskriptif hasil belajar pada siklus I dan siklus II

Siklus Jumlah Siswa Nilai Rata-rata Nilai Maksimum Nilai Minimum
Pertama 31 7,19 10 2,5
Kedua 31 7,74 10 5

 

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembelajaran yang disajikan di dalam BAB IV, dapat diambil simpulan bahwa pembelajaran kimia dengan penggunaan media interaktif dapat meningkatkan kualitas pembelajaran kimia siswa SMK Negeri 8 Semarang. Peningkatan ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa pada evaluasi pertama dan kedua, juga dapat dilihat dari persentase ketuntasan belajar setiap evaluasi dan persentase aktivitas siswa yang  selalu meningkat pada setiap pembelajaran.

 

  1. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa penggunaan media interaktif dalam proses pembelajaran perlu ditingkatkan lagi, tidak terbatas pada materi Hukum Guy Lussac dan Hukum Avogadro, tapi bisa dikembangkan pada materi lainnya. Penggunaan laboratorium komputer tidak hanya untuk mata diklat produktif saja, tapi harus terbuka juga untuk mata diklat normatif dan adaftif.

 

Download laporan PTK doc Word

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: